Header Ads

Apa Itu Stress Cardiomyopathy? Ini Penjelasannya


Halo Serupedians

Patah hati adalah hal biasa yang sering dialami manusia. Namun jika terus berlarut-larut hal buruk pun akan dirasakan hingga mengakibatkan sebuah syndrom atau penyakit yang bisa mematikan. Sindrom atau penyakit tersebut adalah Stress Cardiomyopathy.



Apa itu Stress Cardiomyopathy?

Stress Cardiomyopathy atau juga dikenal sebagai Sindrom patah hati (broken heart syndrome) adalah gangguan jantung sementara yang diakibatkan oleh situasi yang membuat penderitanya tertekan atau stres. Dalam terminologi medis, patah hati bukan sekadar masalah seseorang yang mengalami putus cinta, melainkan bisa karena kehilangan seseorang yang sangat dicintai, seperti suami, istri, anak/cucu, atau sahabat karib. Penyakit berat nonkardiak (masalah primernya bukan pada jantung) juga bisa menjadi pencetus kelainan ini.

Sindrom ini awalnya dikenal sebagai takotsubo cardiomyopathy, tapi saat ini ada beberapa istilah yang menunjukkan kondisi ini seperti stress cardiomyipathy atau sindrom balon apikal (apical ballooning syndrome). Pertama kali dideteksi oleh para peneliti Jepang pada awal 1990-an, sindrom ini sampai sekarang masih menjadi sebuah misteri bagi kebanyakan kalangan medis. 

Menurut penjelasan Mayoclinic.com, kondisi  ini disebut Takotsubo cardiomyopathy karena ada kaitannya dengan cerek atau pot yang dipakai seorang nelayan Jepang untuk menangkap gurita. Ketika para dokter mengambil gambar foto sinar X dari pasien yang mengalami broken heart syndrome, bagian jantungnya menyerupai pot yang digunakan nelayan Jepang tersebut.

Sindrom ini tak bisa dianggap enteng karena dapat memicu produksi hormon stres seperti adrenalin sehingga melemahkan sebagian fungsi otot jantung untuk sementara bahkan mengalami kerusakan (cardiomyopathy).

Untuk memahami sindrom ini lebih lanjut, para peneliti melakukan studi yang melibatkan 12 perempuan dengan sindrom patah hati dalam 6 bulan terakhir, 12 perempuan yang tidak pernah mengalami sindrom dan 4 perempuan yang pernah mengalami serangan jantung klasik.

Dr Amir Lerman, seorang ahli jantung dari Mayo Clinic di Rochester, seperti dilansir LiveScience mengatakan bahwa perempuan yang mengalami sindrom patah hati memiliki pembuluh darah yang tidak bekerja secara optimal akibat respons dari hormon stres yang diterimanya.

Dr Lerman menuturkan pembuluh darah seharusnya melebar untuk memungkinkan lebih banyak darah yang mengalir ke jantung. Tapi pada saat seseorang mengalami hal yang menegangkan, mengejutkan atau stres maka pembuluh darah menjadi terbatas sehingga mengurangi pasokan darah ke jantung.

Para peneliti mengungkapkan respons pembuluh darah yang abnormal terhadap stres bisa berkontribusi memicu sindrom patah hati. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan secara online pada 23 November 2010 dalam Journal of the American College of Cardiology.

Hingga saat ini belum ada terapi yang bisa mencegah terjadinya sindrom patah hati, tapi satu hal yang penting adalah seseorang harus bisa mengelola stres dalam hidupnya dengan baik untuk mengurangi potensi hormon stres merusak jantung.

Bagaimana Gejalanya?

Gejala sindrom ini menyerupai serangan jantung dan cenderung terjadi setelah seseorang mengalami pukulan akibat peristiwa yang melibatkan fisik atau momen yang sangat emosional.

"Walau begitu, sindrom ini bisa pulih tanpa menimbulkan cedera pada otot jantung," ungkap Dr Zulkeflee seorang Dokter spesialis jantung, Dr Zulkeflee Muhammad dari National Heart Institute  Malaysia seperti dilansir kompas.com.

Ia menambahkan, terkadang sulit untuk menentukan apakah seorang pasien mengalami serangan jantung atau stress cardiomyopathy sebab gejalanya bisa serupa.

"Tetapi, pada stress cardiomyopathy, angiogram menunjukkan tidak adanya penyumbatan pada arteri dan scan (magnetic resonance imaging/MRI) akan menunjukkan tidak adanya kerusakan permanen," ujarnya.

"Kondisi  ini berbahaya dan bisa menjadi fatal, tetapi dapat dipulihkan. Mereka yang dirujuk ke rumah sakit biasanya dirawat selama sepekan. Dalam empat minggu, mereka benar-benar akan benar-benar pulih dan kembali  menjalani kehidupan normal," ujarnya.

Kondisi ini jarang menjadi fatal selama pasien mendapatkan perawatan medis, bantuan pernapasan dan alat bantu kritis lainnya dalam 48 jam pertama.

Lalu apa saja peristiwa yang dapat membuat seseorang mengalami broken heart syndrome?

"Stres emosional yang akut seperti mengalami kejadian tabrakan hebat, kehilangan orang tercinta, kehilangan pekerjaan, mengalami perceraian, memiliki atasan yang buruk, menjadi korban bencana alam hebat seperti tsunami  atau gempa, merupakan faktor pemicu pada orang dewasa. Bahkan, pesta kejutan ulang tahun pun bisa menyebabkan broken heart syndrome," kata Dr Zulkeflee.

Ia menambahkan, tingkat hormon stres pada seseorang yang mengalami broken heart syndrome tercatat 34 kali lebih tinggi dibandingkan pasien yang mengalami serangan jantung.

Sejumlah gejala umum yang dikenali saat seseorang mengalami serangan jantung di antaranya adalah napas yang tersengal-sengal, sakit dan rasa tidak nyaman pada dada.

"Kasus ini terjadi manakala otak menginstruksikan jantung untuk berhenti. Pada mereka yang mengalami stress cardiomyopathy, selang 48 jam pertama adalah masa kritis karena kemungkinan buruk bisa terjadi," tambah Dr Zulkeflee.

Ia menyatakan, kasus stress cardiomyopathy jarang terjadi  di negara-negara Barat karena di sana tersedia sistem dukungan yang baik bagi mereka yang mendapat musibah kehilangan orang tercinta atau korban kecelakaan.

"Di negara-negara Timur, ketika seorang perempuan kehilangan suaminya atau ketika seseorang kehilangan orang tercinta, mereka harus berjuang mengatasi situasi itu sendirian.  Ini dapat memicu pelepasan hormon stres yang sangat besar dalam tubuh dan menyebabkan timbulnya stress cardiomyopathy," ujarnya.

Dr Zulkeflee juga menyarankan, bagi mereka yang merasakan sakit pada daerah dada atau merasakan tidak nyaman untuk segera memeriksakan diri ke dokter.



Powered by Blogger.