Musik Cerdas Band Efek Rumah Kaca

Sahabat Serupedia, Pernah dengar Band Efek Rumah Kaca (ERK)? Nah! Kalo belum dengar, ini dia ulasan mengenai grup band asal Jakarta yang dianggap memiliki konsep musik yang cerdas. 



ERK sering disebut-sebut sebagai "indie heroes" bahkan ada yang menyebutnya "penyelamat musik Indonesia". Band ini mengusung aliran yang tidak biasa, dan juga lirik yang tidak biasa. Sebut saja hit pertama album debutnya "cinta melulu" yang mengkritik keadaan dunia musik Indonesia yang mengobral lagu-lagu mendayu nan sendu. Simak !




Sejarah Singkat Terbentuk

Efek Rumah Kaca beranggotakan 3 personil pria, yakni Cholil (Vokal/Gitar), Adrian (Bass/Back.Vokal), dan Akbar (Drum/Back.Vokal) mengawali band mereka pada tahun 2001 silam. Awalnya, band ini bernama “Hush”, lalu kemudian menjadi “Superego”. Karena mereka sudah mendengar ada band lain yang menggunakan nama yang sama, mereka memutuskan untuk berganti nama menjadi “Efek Rumah Kaca” pada tahun 2006. Nama ERK sendiri diambil dari salah satu judul lagu yang mereka ciptakan.Sebenarnya ERK sudah merekam lagu-lagunya sejak tahun 2004.

Pengaruh Bermusik


Darimana pengaruh bermusik ERK? Jon anderson, peter gabriel, the beatles, sting, smashing pumpkins, bjork, radiohead, jeff buckley, rufus wainwright, sufjan stevens, billie holiday, iwan fals, eros djarot, guruh sukarno putra, chrisye, sore, santamonica, zeke and the popo.


# Riview Album : Efek Rumah Kaca [2007/Paviliun records]

1. Jalang
2. Jatuh Cinta Itu Biasa Saja
3. Bukan Lawan Jenis [cocok buat maho2 GX )
4. Belanja Sampai Mati
5. Insomnia
6. Debu-debu Beterbangan
7. Di Udara
8. Efek Rumah Kaca
9. Melankolia
10. Cinta Melulu
11. Sebelah Mata
12. Desember

Tema-tema social, politik, dan keseharian banyak mempengaruhi materi album perdana mereka. Lirik lagu dengan bahasa Indonesia yang puitis dan cerdas, sekali lagi merupakan kekuatan dari lagu-lagu ERK. Hampir semua lagu yang ada di album pertama mereka ini diciptakan oleh Cholil. Ada delapan lagu yang diciptakan olehnya, termasuk juga sebagian besar liriknya. Cholil ingin mengangkat tema dengan lirik yang tidak biasa dan dengan struktur bahasa Indonesia yang tidak biasa juga.Dengar saja lagu “Jalang” yang terinspirasi dari ketidaksetujuan mereka terhadap isu RUU APP.



Lalu ada juga “Belanja Sampai Mati” yang memotret pola hidup konsumerisme di kalangan masyarakat, tak terkecuali mereka. Tak hanya tema-tema social, mereka juga menciptakan lagu bertema cinta. Tapi lagu cinta yang mereka ciptakan tidak seperti lagu-lagu cinta yang kebanyakan beredar dipasaran. Lagu “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” salah satunya. Lagu cinta ini terinspirasi dari kejenuhan akan lagu-lagu cinta yang menggunakan kalimat-kalimat metafora yang berlebihan. Mereka menggambarkan bahwa jatuh cinta itu adalah proses yang biasa-biasa saja.

Kemudian ada juga lagu “Desember” yang didorong oleh keinginan membuat lagu balada dan bercerita tentang kesetiaan dan kesabaran akan segala sesuatu yang kita jalani.

#Review Album : Kamar Gelap [2008/ Aksara Records]

1. Tubuhmu Membiru... Tragis!
2. Kau dan aku menuju ruang hampa
3. Mosi Tidak Percaya
4. Lagu kesepian
5. Hujan jangan marah
6. Kenakalan remaja di era informatika
7. Menjadi Indonesia
8. Kamar gelap
9. Jangan bakar buku
10. Banyak asap di sana
11. Lelaki Pemalu
12. Balerina

“Tubuhmu Membiru…Tragis” menebarkan kebahayaan album ini dengan menyelinap ke otak kita, seperti obat bius paling legal yang pernah kita nikmati. Dengan irama jazzy yang mengawalinya, suara gitar Cholil yang monoton tapi tidak dapat ditolak kenikmatannya membuat lagu ini menciptakan sebuah atmosfir yang misterius, galau tapi menenangkan sekaligus. Di lagu kedua “Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa” bagian akhir lagu ini adalah sebuah klimaks dengan Cholil yang menduplikasikan dirinya sendiri dalam vokal, distorsi gitar dan lantunan teriakan di latar belakang, sementara itu Akbar menghajar drumnya seperti esok adalah hari di mana apokalips akan datang. Distorsi? ya, ini lagu berunsur Rock.

“Mosi Tidak Percaya” diawali dengan sebuah riff gitar dan bas seperti sebuah lagu ‘rock’ yang akan menjadi bahan pembicaraan abadi, belum lagi suara tepukan tangan dan vokal Cholil yang mendekati kesempurnaan dalam lagu itu. Suaranya di situ adalah suara kepenatan akan janji yang tidak pernah dipenuhi, sebuah teriakan rakyat yang tak mau lagi dikelabui oleh janji-janji palsu “Kamu ciderai janji, luka belum terobati, kami tak mau dibeli, kami tidak bisa dibeli, janjimu pelan-pelan akan menelanmu”. Bila “Di Udara” adalah sebuah anthem melawan kefrustasian penegakan HAM yang tidak becus ditangani, “Mosi Tidak Dipercaya” adalah lagu yang ingin menusuk mereka yang menjadi pusat ketidakbecusan itu. Lagu itu diakhiri dengan teriakan “Oiii…Oii…Oiiii” seperti teriakan ultimatum menuntut keadilan, teriakan menuntut kejujuran, teriakan menuntut perubahan. Dan di atas teriakan putus asa tersebut, Cholil bernyanyi “Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya. Ini mosi tidak percaya, kami tidak mau lagi diperdaya”. Nyanyian itu memberikan harapan, bahwa semuanya masih akan berubah, dan kita akan kembali lagi percaya. Untuk itu, Efek Rumah Kaca akan menjadi abadi.

“Lagu Kesepian” dan “Hujan Jangan Marah” adalah antitesis dari lagu balada tipikal negara ini. Keduanya menyampaikan maksudnya, tanpa harus bermain dengan kebancian lagu balada yang dengan khas mengumbar rangkaian kata-kata manis sampai menghilangkan maknanya sendiri. Kedua lagu itu disusul dengan “Kenakalan Remaja Di Era Informatika” yang mungkin lagu paling pop di album ini. Lagu ini menyinggung mereka yang selalu membiarkan birahi menjadi juara dalam kehidupan. Di situ dengan lugas Cholil bernyanyi “Apakah kita tersesat arah? Mengapa kita tak bisa dewasa?”. Kita lupa, masih banyak yang harus ditindaklanjuti di negara ini, dari hanya mengurusi kenakalan remaja tersebut. Sekali lagi, Efek Rumah Kaca berhasil menyentil kenaifan kita menghadapi diri kita sendiri dalam mengatur diri.

Dengan suara vokal jernih dan terkesan agung, Cholil membuka “Menjadi Indonesia”. Ia mengajak kita untuk “Lekas bangun tidur berkepanjangan, menyatakan mimpimu … masih ada cara menjadi besar … menjelma dan menjadi Indonesia”. Mereka tidak menjargonkan arti nasionalis dengan berlebihan, tapi dengan cerdas dan masuk akal. Ini adalah lagu Efek Rumah Kaca, tentang sebuah impian akan Indonesia yang akan dikagumi kembali, dan tentang masing-masing dari kita yang akan kembali bangga akan hal tersebut.

Melalui caranya sendiri Efek Rumah Kaca mengungkapkan rintihan mereka akan sesuatu yang tidak pada semestinya, seperti titel track album ini “Kamar Gelap” yang dapat diinterpretasikan sebagai kerinduan agar semua masa lalu bangsa ini direkam dan diungkap, tidak dijadikan sebuah buku pelajaran sejarah saja tapi lebih dari sebuah riwayat bangsa di mana itu semua adalah hal yang kekal melekat dalam diri kita, yang harus diingat dan dipelajari dari itu. Lalu dalam “Jangan Bakar Buku” diselingi oleh sebuah tembok suara distorsi yang tiada habisnya memasuki akhir lagu tersebut, Cholil menyanyi dengan kekuatiran yang tenang tentang kebiadaban pembakaran buku yang pernah dilakukan oleh pemerintah masa lampau “Kata-kata demi kata mengantarkan fantasi, habis sudah, habis sudah. Bait demi bait pemicu anestesi, hangus sudah, hangus sudah”.

Campuran gitar jingle-jangle sederhana namun efektif yang pelan-pelan bisa menjadi ciri khas musik Efek Rumah Kaca dicampur dengan ritem gitar terpatah-patah, terbalut dengan tema harapan semu untuk kehidupan lebih baik di kota besar/ibu kota adalah tema dari “Banyak Asap Di Sana”. Setelah diselingi dengan irama musik sirkus di “Laki-Laki Pemalu” album mengagumkan ini ditutup dengan “Balerina”. Dalam lagu terakhir ini, Efek Rumah Kaca kembali menampilkan nada-nada riang, terkilas seperti sebuah lagu yang terhilang dari The Smiths, namun dengan Cholil sebagai vokalis tamu, karena Morrissey tidak peduli akan apapun yang berhubungan dengan band lamanya itu. Terlalu mengiritasikan untuk diabaikan, lagu terakhir ini sangat membius kita untuk menjadi bahagia, mencari keseimbangan mengisi ketiadaan seperti yang dilanturkan oleh Cholil sendiri di lagu itu.Sering disebut-sebut sebagai "indie heroes" bahkan "penyelamat musik Indonesia". Band ini mengusung aliran yang tidak biasa, dan juga lirik yang tidak biasa. Sebut saja hit pertama album debutnya "cinta melulu" yang mengkritik keadaan dunia musik Indonesia yang mengobral lagu-lagu mendayu nan sendu. Band ini juga tidak memakai lirik-lirik sederhana. Mereka cenderung memakai bahasa Indonesia yang baku dalam liriknya yang disusun secara puitis. Alih-alih tidak ada yang mengerti lirik mereka, justru respon yang mereka terima cukup besar. Ya, sebuah band cerdas dengan lirik kritis tapi puitis, mengekspresikan hasrat terdalam penduduk Indonesia yang gerah akan banyaknya ketidak normalan yang terjadi di negara ini.


No comments:

Komen yang mengandung Spam akan kami detete

Powered by Blogger.